BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan
kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri dan
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Salah satu kelemahan
pelayanan kesehatan adalah pelaksaan rujukan yang kurang cepat dan tepat.
Rujukan bukan suatu kekurangan, melainkan sutu tanggung jawab yang tinggi dan
mendahulukan kebutuhan masyarakat. Kita ketahui bersama bahwa tingginya
kematian ibu dan bayi merupakan masalah kesehatan yang di hadapi oleh bangsa
kita.
Dengan
adanya sistem rujukan, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang
lebih bermutu karena tindakan rujukan ditujukan pada kasus yang tergolong
berisiko tinggi. Oleh karena itu, kelancaran rujukan dapat menjadi paktor yang
menentukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan perinatal, terutama dalam
mengatasi keterlambatan.
Bidan
sebagai tenaga kesehatan harus memiliki kesiapan untuk merujuk ibu atau bayi ke
fasilitas kesehatan perujukan secara optimal dan tepat waktu jika menghadapi
penyulit. Jika bidan lemah atau lalai dalam melakukannya, akan berakibat fatal
bagi keselamatan jiwa ibu dan bayi. Untuk itu kita akan mempelajari tentang
sistem rujukan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan sistem rujukan dan bentuk rujukan?
2. Apa
saja tingkatan rujukan?
3. Bagaimana
alur dari rujukan?
4. Apa
saja masalah yang dirujuk dalam kesehatan masyarakat terutama masalah kebidanan?
5. Apa
peran bidan dalam rujukan?
C. Tujuan
1. Agar
mahasiswa mengerti dengan sistem rujukan.
2. Agar
mahasiswa dapat mengaplikasikannya dalam praktek lapangan.
3. Untuk
menambah wawasan mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
DAN BENTUK RUJUKAN
Sistem rujukan
upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan
yang memungkinkan terjadi nya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik
atas masalah yang timbul, baik secara vertikal maupun horizontal ke fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional, dan tidak di batasi oleh
wilayah administrasi. Tujuan sistem rujukan adalah untuk meningkatkan mutu,
cakupan dan efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu.
Terdapat dua jenis atau bentuk
istilah rujukan, yaitu rujukan medik dan rujukan kesehatan :
1.
Rujukan
medik
Rujukan medik
yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul
baik secara vertikal maupun horizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu
menanganinya secara rasional.
Jenis rujukan medik:
a. Transfer of fatient
konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan
operatif,dll.
b. Transfer of specimen.
Pengiriman bahan ( specimen ) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap.
c. Transfer of knowledge/ personel.
Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahliuntuk meningkatkan mutu layanan
pengobatan setempat.
2.
Rujukan
kesehatan
Rujukan
kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau specimen ke
fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan yang menyangkut
masalah kesehatan yang sifatnya preventif dan promotiv.
B.
TINGKATAN
RUJUKAN
1.
Fasilitas
Kesehatan Primer (Puskesmas)
Pusat Kesehatan
Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
di wilayah kerjanya.
Azas rujukan,
yaitu Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
bila tidak mampu mengatasi masalah karena berbagai keterbatasan, bisa melakukan
rujukan baik secara vertikal maupun horizontal ke Puskesmas lainnya (Mubarak,
2009).
Bisa dirujuk ke Puskesmas
PONED yang memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan langsung terhadap ibu
hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir baik yang datang sendiri atau
atas rujukan kader/ masyarakat, bidan desa dan puskesmas. Puskesmas mampu PONED
adalah Puskesmas rawat inap yang mampu menyelenggarakan pelayanan obstetri dan
neonatal emergensi/komplikasi tingkat dasar dalam 24 jam sehari dan 7 hari
seminggu (Kementerian Kesehatan, 2013).
2.
Fasilitas
Kesehatan Sekunder (Rumah Sakit PONEK)
Rumah Sakit
PONEK umumnya adalah Rumah Sakit Umum Kabupaten/ Kota yang telah mempunyai
dokter spesialis kandungan (Dokter SpOG) dan dokter spesialis anak (Dokter
Sp.A). Lingkup pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang dilakukan di
Rumah Sakit PONEK adalah meliputi semua pelayanan Obstetri Neonatal
Komprehensif, termasuk pemberian transfusi darah, bedah sesar dan perawatan
neonatal intensif.
Fasilitasnya
adalah sebagai berikut:
1) Ada
dokter jaga yang terlatih di UGD untuk mengatasi kasus emergensi dasar baik
secara umum maupun Emergency Neonatal.
2) Dokter
atau bdan yang telah mengikuti pelatihan tim PONEK di rumah sakit meliputi
resusitasi neonatus, kegawatdaruratan Obstetrik Neonatal.
3) Mempunyai
standar operating prosedur penerimaan dan penanganan pasien dengan
kegawat daruratan obstretrik Neonatal.
4) Kebijakan
tidak ada uang muka bagi pasien kegawatdaruratan obstretri dan Neonatal.
5) Mempunyai
prosedur pendelegasian wewenang.
6) kurang
dari 30 menit, pelayanan darah kurang dari 1 jam.
7) Tersedia
kamar operasi siap siaga 24 jam untuk melakukan operasi,bila ada kasus
emergensi obstretrik dan umum.
8) Tersedia
kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi kurang dari 30 menit.
9) Memiliki
kru /awak yang siap melakukan operasi atau melaksanakan tugas sewaktu waktu
meskipun harus oncall.
10) Adanya
dukungan semua pihak dalam tim pelayanan PONEK antara lain dokter kebidanan,
dokter anak,dokter/petugas anastesi, dokter penyakit dalam, dokter spesialis lainnya
serta dokter umum,bidan dan perawat
11) Tersedianya
pelayanan darah yang siap 24 jam.
12) Tersedianya
pelayanan penunjang lain yang berperan dalam PONEK, seperti laboratorium,dan
radiologi selama 24 jam, recovery room 24 jam, obat dan alat penunjang
yang selalu siap dan tersedia.
13) Bahan
harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan berkualitas
tinggi.
14) Sumber
daya manusia adalah 1 Dokter spesialis kebidanan, 1 Dokter spesialis anak, 1
Dokter umum di UGD, 3 orang bidan (koordinator dan 2 penyelia) dan 2 orang
perawat. Tim PONEK idealnya ditambah 1 Dokter spesialis anastesi/perawat
anasthesi, 6 Bidan pelaksana, 10 Perawat jaga (tiap sift 2 -3 orang), 1 Petugas
laboratorium, Pekarya kesehatan dan 1 Petugas adminitrasi.
3.
Fasilitas
Kesehatan Tersier (Rumah Sakit Provinsi)
Merupakan rumah
sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik
luas dan sub spesialistik luas sehingga oleh pemerintah ditetapkan sebagai
tempat rujukan tertinggi atau sering juga disebut rumah sakit pusat. Dan
terdiri lebih dari 11 spesialistik yaitu Penyakit dalam, kebidanan dan penyakit
kandungan, bedah, kesehatan anak, telinga, hidung dan tenggorokkan, mata,
syaraf, jiwa, kulit dan kelamin, jantung, paru, radiologi, anesthesia,
rehabilitasi medis, patologis klinis, patologi anatomi, dan lain- lain.
C. ALUR RUJUKAN
Dari Kader
Dapat langsung
merujuk ke :
1) Puskesmas
pembantu
2) Pondok bersalin /
bidan desa
3) Puskesmas /
puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit
pemerintah / swasta
Dari Posyandu
Dapat langsung
merujuk ke :
1) Puskesmas
pembantu
2) Pondok bersalin /
bidan desa
3) Puskesmas /
puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit
pemerintah / swasta
Dari Puskesmas Pembantu
Dapat langsung
merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
Dari Pondok bersalin / Bidan Desa
Dapat langsung
merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta.
Alur
rujukan kasus kegawat daruratan:
1. Antara
masyrakat ke Puskesmas
2. Antara
Puskesmas pembantu / bidan di desa ke Puskesmas
3. Intern
antara petugas Puskesmas / Puskesmas rawat inap
4. Antara
Puskesmas dengan Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas kesehatan lainnya.
Apapun
tipe rujukan yang diperlukan, lakukan kolaborasi dengan anggota disiplin ilmu
lain sehingga kebutuhan individu pasien terpenuhi.
Langkah
perujukan.
1. Kaji
kebutuhan klien untuk pelayanan dari departemen lain di rumah sakit lain.
Pertimbangan kebutuhan klien saat ini dan pasca – perawatan di rumah sakit.
2. Dapatkan
pesanan yang di butuhkan untuk rujukan dan komunikasikan dengan departemen yang
bersangkutan tentang kebutuhan perawatan kesehatan khusus klien yang akan
mempengaruhi terapi.
3. Jelakan
pada klien bahwa ahli terapi dari departemen lain akan berkunjung.
4. Konsultasikan
dengan pelayanan rujukan tentang iflikasi perawatan yang berhubungan dengan
tindakan yang diharuskan ( mis., latihan, pembatasan diet, dan teknik
komunikasi).
5. Tentukan
luasnya kebutuhan klien yang akan dipenuhi oleh pekayanan rujukan. Sebagai
contoh, apakah masukan diet klien telah membaik atau berat badan meningkat ?
apakah klien mempelajari alternatif teknik komunikasi?
6. Catat
informasi tentang tipe rujukan dan frekuensi kunjungan dalam kardeks dan
rencana asuhan.
Ketersediaan
pelayanan bervariasi sesuai dengan ukuran dan tipe institusi perawatan
kesehatan. Banyak institusi, konferesi tim multidisiplin member kesempatan yang
sangat baik untuk mendiskusikan kebutuhan klien dan menbuat rujukan, klien
harus diajarkan tentang peran masing-masing terapis baru yang di tugaskan ke
dalam aktivitas perawatan. Misalnya, jika klien akan menerima pelayanan ini di
lingkungan rumah, bidan ahrus mendidik klien tentang pelayanan yang di harapkan
dan cara menghubungi pemberi pelayanan secara langsung. Rujukan untuk klien
pediatrik, termasuk sibling dan orang tua anak. Selain itu, kebutuhan
perkembangan, psikologis, dan psikososial anak menjadi pertimbangan jika di
lakukan rujukan.
D. MASALAH YANG DIRUJUK DALAM
KESEHATAN MASYARAKAT
Biasanya yang
dilakukan perujukan adalah penyakit yang parah pada umumnya, tetapi dalam
kebidanan yang harus dilakukan perujukan adalah 18 penapisan awal.
18 penapisan awal yang harus dirujuk
adalah sebagai berikut:
1.
Riwayat seksio sesaria.
2.
Perdarahan pervagina.
3.
Persalinan kurang bulan ( UK kurang dari
37 minggu).
4.
Ketuban pecah dengan mekonium yang
kental .
5.
Ketuban pecah lama ( lebih kurang 24
jam).
6.
Ketuban pecah dini ( UK kurang dari 37
minggu).
7.
Ikterus.
8.
Anemia berat.
9.
Tanda/ gejala infeksi.
10. Preeklamsi/hipertensi
dalam kehamilan.
11. Tinggi
fundus 40 cm atau lebih.
12. Gawat
janin.
13. Primipara
dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5.
14. Presentasi
bukan belakang kepala.
15. Kehamilan
gameli.
16. Presentasi
majemuk.
17. Tali
pusat menumbang.
18. Syok.
Dan Rujuk setiap
bayi yang memiliki tanda- tanda infeksi, kelihatan tidak sehat, tidak member
reaksi yang baik terhadap resusitasi, dan mengelami sulit bernafas yang
berkepanjangan. Lakukan pula rujukan terhadap bayi yang tidak dapat memulai
atau melanjutkan upaya menyusu.
Kegiatan Rujukan dan pelayanan
kebidanan:
1. Pengiriman
orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap.
2. Rujukan
kasus patologis pada kehamilan, persalinan,dan nifas.
3. Pengiriman
kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus ginekologi atau
kontraseps, yang memerlukan penanganan spesialis.
4. Pengiriman
bahan laboratorium.
5. Jika
penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan
kirimkan ke unit semula, jika perlu di sertai dengan keterangan yang lengkap (
surat balasan ).
E. PERAN BIDAN DALAM RUJUKAN
Bidan
memberitahu kepada keluarga pasien tentang persiapan rujukan. Persiapan yang
harus di perhatikan dalam melakukan rujukan, disingkat “BAKSOKU” yang di
jabarkan sebagai berikut:
1. B
: ( bidan), pastikan ibu/ bayi/klien di damping oleh tenaga kesehatan yang
kompeten dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan.
2. A
: ( alat ), bawa perlengkapan dan bahan- bahan yang di perlukan, seperti spuit,
infus, set , tensimeter, stetoskop.
3. K
: ( keluarga ), beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu ( klien ) dan
alasan mengapa iya dirujuk. Suami dan anggota keluarga yang lain harus menemani
ibu ( klien ) ketempat rujukan.
4. S
: ( surat ), beri surat ketempat rujukan yang berisi identifikasi ibu ( klien
), alasan rujukan, uraian hasil rujukan, asuhan, atau obat- obat yang diterima
ibu ( klien).
5. O
: ( obat ), bawa obat- obat esensial di perlukan selama perjalanan di perlukan.
6. K
: ( kendaran ), siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkunkan ibu (
klien ) dalam kondisi yang nyaman mencapai tempat rujukan dalam waktu yang
cepat.
7. U
: ( uang ), ingatkan keluarga untuk membawa uang ddalam jumlah yang cukup untuk
membeli obat dan bahan kesehatan yang di perlukan di tempat rujukan.
Asuhan yang diberikan oleh Bidan
1. Anamnesa
Pada
anamnesa hal-hal yang perlu ditanyakan :
a. Riwayat
Kesehatan
Ini
berhubungan dengan kebudayaan, ras, dan umur, ini berguna untuk membantu
perawat mengkaji kelompok resiko terjadinya penyakit-penyakit gangguan sistem
reproduksi.
Kebudayaan
kepercayaan/agama sangat mempengaruhi perilaku seseorang dalam hal seksualitas,
jumlah pasangan. Penggunaan kontrasepsi dan prosedur spesifik terhadap
mengakhiri kehamilan.
b. Riwayat
Kesehatan Individu dan Keluarga
Kebiasaan
sehat pasien seperti: diet, tidur dan latihan penting untuk dikaji. Pentingnya
juga ditentukan apakah pasien peminum alcohol, perokok dan menggunakan
obat-obat.
c. Status Sosial Ekonomi
Yang
perlu dikaji : tempat lahir, lingkungan, posisi dalam keluar, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, situasi financial, sumber stress, agama,
aktivitas-aktifitas yang menyenangkan akan mempengaruhi kesehatan reproduksi.
d. Riwayat
Kesehatan Sekarang
Meliputi
keluhan utama, misalnya : nyeri, perdarahan, pengeluaran cairan / sekret
melalui vagina, ada massa keluhan.
e. Fungsi
roproduksi
Nyeri
yang berhubungan dengan gangguan sistem reproduksi hampir sama dengan nyeri
pada gangguan system gastrointestinal dan perkemihan pasien harus menguraikan
tentang : nyeri, intensitas kapan dan dimana kesediannya, durasi dan
menyebabkan nyeri bertambah dan berkurang, hubungan nyeri dan menstruasi,
seksual fungsi urinarius dan
gastrointestinal.
Perdarahan
perlu dikaji ke dalam perdarahan abnormal seperti : perdarahan pada saat
kehamilan, dan setelah menopause, karakteristik perdarahan abnormal harus
dikaji mencakup : terjadinya durasi, interval, dan faktor-faktor pencetus
perdarahan. Kapan kejadiannya : pada siklus menstrurasi atau menopause, setelah
berhubungan seksual, trauma atau setelah aktifitas juga dikaji jumlah darah,
warna konsistensi dan perubahan-perubahan yang terjadi.
Pengeluaran
cairan melalui vagina dapat menyebabkan infeksi berair di sekitarnya jaringan,
gatal, nyeri, selanjutnya timbul rasa malu dan cemas. Perawat harus menanyakan
tentang tentang jumlah, warna, konsiskensi, bau dan pengeluaran terus-menerus.
Gejalanya seperti luka, perdarahan, gatal, dan nyeri pada genital.
2. Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan
ini mencakup:
a. Pemeriksaan
fisik umum yaitu : tinggi badan, berat badan, bentuk / postur tubuh, sistem
pernapasan, kardiovaskaler tingkat kesadaran.
b. Pemeriksaan
spesifik yaitu:
1. Pemeriksaan
payudara
Pemeriksaan inspeksi
payudara dilakukan pada pasien dengan posisi duduk. Hal yang diperiksa :
ukuran, simetris, apakah ada pembengkakan, masa retraksi, jaringan perut /
bekas luka, kondisi puting susu.
2. Pemeriksaan
abdomen
Pemeriksaan
abdomen untuk mengetahui adanya masa abdominopelvic. Massa yang dapat ditemukan
pada organ reproduksi, sehingga perlu dikombinasikan riwayat kesehatan.
c. Pemeriksaan
genetalia eksternal
Bertujuan
mengkaji kesesuaian umur dengan perkembangan system reproduksi. Posisi pasien
saat pemeriksaan genetalia eksternal adalah litotomi. Kaji kondisi rambut pada
simpisis pubis dan vulva, kulit dan mukosa vulva dari anterior ke posterior hal
yang dikaji mencakup adanya tanda-tanda peradangan, bengkak, lesi dan
pengeluaran cairan dari vagina.
d. Pemeriksaan
pelvik
Pemeriksaan
dalam pada vagina dan serviks, pertama kali dilakukan secara manual dengan jari
telunjuk, untuk menentukan lokasi seviks. Lakukan inspeksi serviks, erosi,
nodul, massa, cairan pervaginam dan perdarahan, juga lesi atau luka.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari materi
diatas dapat kita simpulkan bahwa sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan
fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadi nya penyerahan tanggung
jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertikal maupun
horizontal ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional,
dan tidak di batasi oleh wilayah administrasi. Sistem rujukan memiliki dua
bentuk yaitu rujukan kesehatan dan rujukan medik. Dan tingkatan sistem rujukan
ada tiga yaitu Fasilitas Kesehatan Primer (Puskesmas), Fasilitas Kesehatan Sekunder
(Rumah Sakit PONEK), dan Fasilitas Kesehatan Tersier (Rumah Sakit Provinsi).
Dalam merujuk
pasien juga memiliki alur rujukannya tersendiri. Tidak semua dapat dirujuk oleh
bidan tetapi masalah yang dirujuk oleh
bidan adalah masalah yang patologis. Dalam merujuk pasien bidan juga memiliki
peranan dalam memberikan asuhan sebelum dirujuk seperti yang sudah dijelaskan
diatas.
B. Saran
Makalah ini kami
buat mungkin belum sempurna untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Hamidah,2012.Kebidanan
Komunitas.Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC.
Ika, Tatarini.2013.Mutu
Pelayanan Kesehatan dan Kebidanan.
Jakarta Selatan:
Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar