MAKALAH
ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS, BBL,
BALITA, DAN APRAS
HERNIA DIFRAGMATIKA, ATRESIA
DUODENI, BBLR,
DAN MENINGOKEL

Dosen Pengampu: Culeksi
Yusie Noviana Putri, S.SiT,
M.Kes
Disusun oleh:
Kelompok 5
1. Linda Wahyuni.P
2. Neni Yunera
UNIVERSITAS
DHARMAS INDONESIA
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN
AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dan
menyusun makalah ini tepat pada waktunya, makalah tentang Hernia Difragmatika, Atresia Duodeni, BBLR, dan Meningokel.
Materi
makalah ini disusun dari berbagai sumber buku dan internet. Maka dari itu isi
dari makalah ini bisa menambah wawasan si pembacanya. Dalam penyusunan makalah
ini, ada beberapa pihak yang membantu. Untuk itu penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga
bantuanya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik dan
saran dari pembaca sangat diharapkan penulis untuk menyempurnakan makalah
selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian.
Dhamasraya,
22 November 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar
Isi.................................................................................................................... ii
BAB
I Pendahuluan
A. Latar
Belakang............................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah.......................................................................................... 2
C. Tujuan............................................................................................................ 2
BAB
II Pembahasan
A. Hernia
Difragmatika...................................................................................... 3
B. Atresia
Duodeni............................................................................................. 8
C. BBLR
(Bayi Berat Lahir Rendah)................................................................. 12
D. Meningokel.................................................................................................... 15
BAB
III Penutup
A. Kesimpulan.................................................................................................... 19
B. Saran.............................................................................................................. 20
Daftar
Pustaka........................................................................................................... 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada
umumnya semua manusia mengharapkan bayi yang normal, tetapi pada kenyataannya
tidak semua bayi yang lahir kedunia ini dengan keadaan normal. Ada yang disebut
dengan bayi baru lahir dengan kelainan. Banyak sekali kelainan pada bayi baru
lahir seperti hernia bregmatika, atresia duodeni, BBLR (Bayi Berat Lahir
Rendah), dan Meningokel.
Sebelum
dibahas lebih rinci dalam makalah ini,
akan dikenalkan terlebih dahulu kelainan – kelainan yang tersebut
diatas. Hernia Diafragmatika
adalah penonjolan organ intra abdomen ke dalam rongga kavum pleura melalui
suatu lubang pada diafragma. Salah satu penyebab terjadinya hernia diafragma
adalah trauma pada abdomen, baik trauma penetrasi maupun trauma tumpul, baik
pada anak-anak maupun orang dewasa. Sedangkan Atresia duodeni adalah
buntunya saluran pada duodenum yang biasanya terjadi pada ampula voteri. Bayi lahir dengan berat lahir
rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian
masyarakat yang ditandai dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Dan
meningokel adalah selaput otak menonjol keluar pada salah satu sela tengkorak
tapi biasanya di daerah belakang kepala.
Pada
masing-masing kelainan tersebut ada gejala, penyebab dan pengobatannya. Kita
harus mengenalinya agar kelainan pada bayi baru lahir ini dapat kita
hindari dan Ini materi yang akan dibahas
pada makalah ini lebih terperinci.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan Hernia diafragmatika, Atresia duodeni, BBLR, dan
Meningokel?
2. Apa
tanda dan gejala dari Hernia diafragmatika, Atresia duodeni, BBLR, dan
Meningokel?
3. Bagaiman
cara pengobatan dari Hernia diafragmatika, Atresia duodeni, BBLR, dan
Meningokel?
C.
Tujuan
1. Agar
mahasiswa mengenal dan memahami dari kelainan tersebut.
2. Agar
mahasiswa bisa tahu bagaimana cara pengobatan dari kelainan tersebut.
3. Agar
mahasiswa tahu bagaiman cara menyikapi jika terjadi dilapangan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hernia
Diafragmatika

a)
Definisi
Hernia
Diafragmatika adalah penonjolan organ perut ke dalam rongga dada melalui suatu
lubang pada diafragma. Hernia diafragmatika merupakan lubang
pada diafragma yang hanya ditutup oleh lapisan pluera dan peritoneum, yang
memungkinkan isi rongga perut dapat masuk kedalam rongga dada. lokasi hernia
diafragmatika yang paling sering adalah pada daerah posterolateral kiri atau
lubang bockdhaleck akibat kegagalan penutupan kanalis pleuro-peritoneal pada 10
minggu pertama kehidupan janin.
b)
Etiologi
Salah satu
penyebab terjadinya hernia diafragma adalah trauma pada abdomen (perut), baik
trauma penetrasi maupun trauma tumpul abdomen. baik pada anak-anak maupun orang
dewasa. Mekanisme dari cedera dapat berupa cedera penetrasi langsung pada
diafragma atau yang paling sering akibat trauma tumpul abdomen. Pada trauma tumpul
abdomen, penyebab paling sering adalah akibat kecelakaan sepeda motor. Hal ini
menyebabkan terjadi peningkatan tekanan intra abdominal yang dilanjutkan dengan
adanya rupture pada otot-otot diafragma. Pada trauma penetrasi paling sering
disebabkan oleh luka tembak senjata api dan luka tusuk senjata tajam. Sekitar
0,8-1,6 % dengan trauma tumpul pada abdomen mengalami rupture pada diafragma.
Perbandingan insiden pada laki-laki dan perempuan sebesar 4:1.
Menurut lokasinya hernia diafragma
traumatika 69 % pada sisi kiri, 24 % pada sisi kanan, dan 15 % terjadi
bilateral. Hal ini terjadi karena adanya hati di sisi sebelah kanan yang
berperan sebagai proteksi dan memperkuat struktur hemidiafragma sisi sebelah
kanan. Organ abdomen yang dapat mengalami herniasi antara lain gaster
(lambung), omentum, usus halus, kolon, limpa dan hepar (hati). Juga dapat
terjadi hernia inkarserata maupun strangulata dari saluran cerna yang mengalami
herniasi ke rongga toraks (dada) ini.
c)
Patofisiologis
Disebabkan oleh gangguan pembentukan diafragma. Diafragma dibentuk dari 3
unsur yaitu membrane pleuroperitonei, septum transversum dan pertumbuhan dari
tepi yang berasal dari otot-otot dinding dada. Gangguan pembentukan itu dapat
berupa kegagalan pembentukan seperti diafragma, gangguan fusi ketiga unsure dan
gangguan pembentukan seperti pembentukan otot. Pada gangguan pembentukan dan
fusi akan terjadi lubang hernia, sedangkan pada gangguan pembentukan otot akan
menyebabkan diafragma tipis dan menimbulkan eventerasi. Para ahli belum
seluruhnya mengetahui faktor yang berperan dari penyebab hernia diafragmatika,
antara faktor lingkungan dan gen yang diturunkan orang tua.
d) Tanda
dan Gejala
a.
Retraksi sela iga dan substernal
b. Perut kecil dan cekung
c. Suara nafas tidak terdengar pada paru karena
terdesak isi perut.
d. Bunyi jantung terdengar di daerah yang
berlawanan karena terdorong oleh isi perut.
e.
Terdengar bising usus di daerah dada.
f. Gangguan pernafasan yang berat
g. Sianosis (warna kulit kebiruan akibat
kekurangan oksigen)
h. Takipneu (laju pernafasan yang cepat)
i. Bentuk dinding dada kiri dan kanan tidak sama
(asimetris)
j.
Takikardia (denyut jantung yang cepat).
e)
Komplikasi
Lambung, usus dan bahkan hati dan limpa menonjol melalui hernia. Jika
hernianya besar, biasanya paru-paru pada sisi hernia tidak berkembang secara
sempurna. Setelah lahir, bayi akan menangis dan bernafas sehingga usus segera
terisi oleh udara. Terbentuk massa yang mendorong jantung sehingga menekan
paru-paru dan terjadilah sindroma gawat pernafasan. Sedangkan komplikasi yang
mungkin terjadi pada penderita hernia diafragmatika tipe Bockdalek antara lain
20 % mengalami kerusakan kongenital paru-paru dan 5 – 16 % mengalami kelainan
kromosom. Selain itu dapat menimbulkan beberapa komplikasi misalnya :
a. Gangguan
Kardiopulmonal karena terjadi penekanan paru dan terdorongnya mediastinum ke
arah kontralateral.
b. Sesak nafas berat berlanjut dengan asfiksia.
c. Mengalami muntah akibat obstruksi usus.
d. Adanya penurunan jumlah alveoli dalam pembentukan bronkus.
b. Sesak nafas berat berlanjut dengan asfiksia.
c. Mengalami muntah akibat obstruksi usus.
d. Adanya penurunan jumlah alveoli dalam pembentukan bronkus.
f)
Gambaran
klinis
Kelainan yang sering ditemukan adalah adanya penutupan yang tidak sempurna
dari sinus pleuroperitoneal ( foramen bochdalek ) yang terletak pada bagian
postero-lateral dari diafragma, tetapi jarang di temukan hernia sinussubsternal
(foramen morgagni) yang melalui hiatus esofagus.
g) Penatalaksanaan
a. Pemeriksaan fisik
1) Pada hernia diafragmatika dada tampak menonjol, tetapi gerakan nafas tidak nyata
2) Perut kempis dan menunjukkan gambaran scafoid
3) Pada hernia diafragmatika pulsasi apeks jantung bergeser sehingga kadang-kadang terletak di hemitoraks kanan
4) Bila anak didudukkan dan diberi oksigen, maka sianosis akan berkurang
5) Gerakan dada pada saat bernafas tidak simetris
6) Tidak terdengar suara pernafasan pada sisi hernia
7) Bising usus terdengar di dada
8) Perut terasa kosong
1) Pada hernia diafragmatika dada tampak menonjol, tetapi gerakan nafas tidak nyata
2) Perut kempis dan menunjukkan gambaran scafoid
3) Pada hernia diafragmatika pulsasi apeks jantung bergeser sehingga kadang-kadang terletak di hemitoraks kanan
4) Bila anak didudukkan dan diberi oksigen, maka sianosis akan berkurang
5) Gerakan dada pada saat bernafas tidak simetris
6) Tidak terdengar suara pernafasan pada sisi hernia
7) Bising usus terdengar di dada
8) Perut terasa kosong
b. Pemeriksaan penunjang
1) Foto thoraks akan memperlihatkan adanya bayangan usus di daerah toraks
2) Kadang-kadang diperlukan fluoroskopi untuk membedakan antara paralisis diafragmatika dengan eventerasi (usus menonjol ke depan dari dalam abdomen).
1) Foto thoraks akan memperlihatkan adanya bayangan usus di daerah toraks
2) Kadang-kadang diperlukan fluoroskopi untuk membedakan antara paralisis diafragmatika dengan eventerasi (usus menonjol ke depan dari dalam abdomen).
c. Perencanaan
Apabila pada anak dijumpai adanya kelainan-kelainan yang bias mengarah pada hernia difragmatika, maka anak perlu segera dibawa ke dokter atau rumah sakit agar segera bias ditangani dan mendapatkan diagnosis yang tepat.
Apabila pada anak dijumpai adanya kelainan-kelainan yang bias mengarah pada hernia difragmatika, maka anak perlu segera dibawa ke dokter atau rumah sakit agar segera bias ditangani dan mendapatkan diagnosis yang tepat.
Tindakan yang bisa dilakukan sesuai
dengan masalah dan keluhan-keluhan yang dirasakan adalah :
1) Anak ditidurkan dalam posisi duduk dan dipasang pipa nasogastrik yang dengan teratur dihisap
2) Diberikan antibiotika profilaksis dan selanjutnya anak dipersiapkan untuk operasi. Organ perut harus dikembalikan ke rongga perut dan lubang pada difragma diperbaiki.
Indikasi Operasi
a. Esophagitis – refluks gastroesofageal
b. Abnormal PH monitoring pada periksaan monometrik
c. Kelainan pada foto upper GI
d. Adanya hernia paraesofageal dengan gejala mekanis
e. Esophageal stricture
f. Tindakan operatif pada Barrett’s esophagus
g. Kegagalan terapi medikal yang adekuat
h. Ruptur diafragma pada hernia traumatika
i. Insuffisiensi kardiorespirator progress
Kontra indikasi operasi (tidak ada)
1) Anak ditidurkan dalam posisi duduk dan dipasang pipa nasogastrik yang dengan teratur dihisap
2) Diberikan antibiotika profilaksis dan selanjutnya anak dipersiapkan untuk operasi. Organ perut harus dikembalikan ke rongga perut dan lubang pada difragma diperbaiki.
Indikasi Operasi
a. Esophagitis – refluks gastroesofageal
b. Abnormal PH monitoring pada periksaan monometrik
c. Kelainan pada foto upper GI
d. Adanya hernia paraesofageal dengan gejala mekanis
e. Esophageal stricture
f. Tindakan operatif pada Barrett’s esophagus
g. Kegagalan terapi medikal yang adekuat
h. Ruptur diafragma pada hernia traumatika
i. Insuffisiensi kardiorespirator progress
Kontra indikasi operasi (tidak ada)
h) Diagnosa
Dapat
ditegakkan diagnosa, yaitu:
1) gerakan dada pada saat bernafas
tidak simetris
2) tidak terdengar suara pernafasan pada sisi
hernia
3) bising usus terdengar di dada
4) perut teraba kosong.
Rontgen dada menunjukkan adanya organ perut di rongga dada.
Rontgen dada menunjukkan adanya organ perut di rongga dada.
i)
Pengobatan
Hernia
diafragmatika diatasi dengan pembedahan darurat. Organ perut harus dikembalikan
ke rongga perut dan lubang pada diafragma diperbaiki.
B.
Atresia Duodeni

a)
Definisi
Atresia Duodeni adalah tidak terbentuknya atau tersumbatnya
duodenum (bagian terkecil dari usus halus) sehingga tidak dapat dilalui makanan
yang akan ke usus. atresia
duodeni diakibatkan kegagalan rekanalisasi setelah tahap " solid
cord" dari pertumbuhan usus proksimal.
b)
Etiologi
Penyebab dari atresia duodenum merupakan kelainan bawaan
yang penyebabnya belum diketahui secara jelas. Namun kerusakan pada duodenum
terjadi karena suplay darah yang rendah pada masa kehamilan sehingga duodenum
mengalami penyempitan dan menjadi obstruksi. Akan tetapi dilhat dari jenis
kelainan, atresia duodenal ini merupakan kelainan pengembangan embrionik saat
masih dalam kehamilan.
c)
Tanda dan Gejala
1. Perutnya menggelembung.
2. Muntah pertama sangat banyak,
yang berwarna kehijau-hijauan.
3. Muntah berikutnya terjadi ketika
tidak mendapatkan makanan selama beberapa waktu.
4. Tidak kencing setelah disusui.
5. Tidak ada gerakan husus setelah
pengeluaran mekonium.
d)
Komplikasi
Pada
atresia duodeni ini, biasanya akan diikuti dengan obstruksi-obstruksi yang
lain, seperti:
a.
Obstruksi lumen oleh membrane utuh, fail
fibrosa menghubungkan dua ujung kantong duodenum yang buntu pendek, atau suatu
celah antara ujung-ujung duodenum yang tidak iusim antara lain “Windscode”
yakni suatu slap jaringan yang dapat mengembang yang terjadi akibat anomaly
saluran empedu.
b.
Aresia membranosa
c.
Obstruksi duodenum dapat disebabkan oleh
pita-pita lada pada penderita melpatasi.
e)
Manifestasi klinik
Atresia
duodeni pada bayi baru lahir harus dicurigai bila bayi tersebut muntah segera
setelah lahir dan secara progesif menjadi buruk dengan pemberian makanan. Feces
akan terlihat seperti mikonium normal, tetapi pada pemeriksaan tidak mengandung
sel epitelium berlapis. Adanya sel epitel menunjukkan keutuhan atau kenormalan
usus tersebut. Dengan adanya peningkatan dehidrasi, maka dapat menimbulkan
demam, yaitu bersuhu 39o C yang merupakan indikasi peritonitis akibat ruktur
dari atresia. Kelainan ini seringkali ditemukan sindrom down.
f)
Diagnosa
Atresia duodeni dapat dikonfirmasikan dengan pemeriksaan
x-ray abdomen, sebuah foto upright abdomen menunjukkan gambaran klasik “double
buble”. Pemeriksaan dengan kontras tidak diperlukan bila udara terlihat pada
usus disitu dari duodenum. Obstruksinya incomplete mengarah pada stenosis
duodenal atau malrotasi,
malrotasi dengan volvulus
harus dicurigai (disingkirkan) bila abdomen tidak terbentuk scaphoid setelah
pemasangan nasogastrik yube.
g) Penanganan
a. Pada
pengobatan awal bayi pada atresia duodenum meliputi dekompresi naso atau
orogastrik dengan penggantian cairan secara intervena.
b. Ekokardiogram
dan fotorontgen dada serta tulang belakang harus dilakukan untuk mengevaluasi
anomaly yang lain anomaly bawaan yang dapat mengancam kehidupan.
c. Koreksi
definitive atresia avodenum biasanya ditunda untuk mengevaluasi dan mengobati
anomaly lain yang berakibat fatal.
d. Duodoni
Duodenostami adalah operasi perbaikan atresia duodenum, usus proksimal yang telah
melebar dapat dikecilkan secara perlahan dalam upaya memperbaiki peristaltik.
e. Pemasangan
pipa gestratomi dipasang untuk mengalirkan lambung dan melindungi jalan nafas.
f. Dukungan
nutrisi intravena atau pipa jejunum frensencstomosis diperlukan sampai bayi mulai
makan peroral.
g. Jika
obstruksi disebabkan oleh pipa lada dengan meliotosi operasi diperlukan tanpa
boleh ditunda setelah lipatan atau pita peritoneum yang tidak normal
dipisahkan, seluruh usus besar diletakkan didalam harus diletakkan disebalah
kanan posisi janin tidak berputar (mal rotasi)
h. Aapendektomi
dilakukan menghindari salah diagnose apendisitis kemudian hari.
i. Memasang
kateter nasagastik berujung balon ke dalam jejunum kesebelah obstruksi, balon
ditiup dengan pelan-pelang, menarik kateternya. ini dilakukan apabila terjadi
malrotasi yang muncul bersama dengan obstruksi duodenum instrisik seperti
membrane atau sterosis.
j. Pada
Pancrease anilare paling baik ditangani dengan duodenoduoderostomi tanpa
memisahkan pancrease dengan meninggalkan sependek mungkin bagian lingkungan
yang tidak berfungsi. obstruksi duodenum diafragmatika dikelola dengan
diadenoplasti karena ada kemungkinan bahwa duktus koledafus dapat bermuara pada
diafragma sendiri (Ngastiyah, 1997).
h)
Asuhan Kebidanan
1.
Perbaikan keadaan umum dengan mengatasi
muntah-muntah sebelum operasi.
2.
Berikan informed consent dan informena chace
sebelum dilakukan rujukan atau tindakan pembedahan.
C.
BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)

a)
Definisi
BBLR adalah bayi lahir dengan berat
badan kurang dari 2.500 g tanpa memperhatikan umur kehamilan. pada bblr sering
ditemui refleks mengisap/menelan lemah. bahkan kadang-kadang tidak ada,bayi
cepat lelah. saat menyusu sering tersedak atau malas mengisap dll.
b) Etiologi
BBLR dapat disebabkan karena:
1. Persalinan kurang bulan / premature
Bayi lahir pada umur kehamilan
antara 28 minggu sampai 36 minggu.
Pada umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat daripada waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim. Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang sempurna dan prognosisnya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (prematur).
Pada umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat daripada waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim. Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang sempurna dan prognosisnya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (prematur).
2.Bayi lahir kecil untuk masa
kehamilan
Bayi lahir kecil untuk masa
kehamilannya karena ada hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh
lambat). Retardasi pertumbuhan intrauterine berhubungan dengan keaadaan yang
mengganggu sirkulasi dan efisiensi plasenta dengan pertumbuhan dan perkembangan
janin atau dengan keadaan umum dan gizi ibu. Keadaan ini mengakibatkan
kurangnya oksigen dan nutrisi secara kronik dalam waktu yang lama untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin.
c)
Penanganan
1. Mempertahankan suhu dengan ketat
BBLR mudah dan cepat mengalami
hipotermi, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.
Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative lebih luas
dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak di bawah kulit, dan
kekurangan lemak coklat (brown fat).
2. Mencegah infeksi dengan ketat
BBLR sangat rentan akan infeksi, ini
disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relative
belum sanggup membentuk entibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap
peradangan belum baik. Oleh karena itu, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan
infeksi, termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.
3. Pengawasan nutrisi/ASI
Pada BBLR refleks isap, telan dan batuk belum sempurna,
sehingga pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat, kapasitas lambung
masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase kurang, disamping itu
kebutuhan protein 3-5 gram/hari dan tinggi kalori (110 kal/kg/hari), agar berat
badan bertambah sebaik-baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan
bayi cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur 3 jam agar
bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.
4. Penimbangan ketat
Perubahan berat badan mencerminkan
kondisi gizi / nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh
sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.
D.
Meningokel

a)
Definisi
Meningokel merupakan satu dari tiga
jenis kelainan bawaan spina bifida. meningokel adalah meningens yang menonjol
melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan berisi
cairan dibawah kulit. spina bifida ( sumbing tulang belakang ) adalah suatu
celah pada tulang belakang (vertebra), yang terjadi karena bagian dari satu
atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh.
b) Etiologi
Penyebab terjadinya menignokel adalah karena adanya defek
pada peutupan spina bifida yang berhubungan dengan pertumbuhan yang tidak
normal dari korda spianlis atau penutupnya, biasanya terletak di garis tengah.
Meningokel
terbentuk saat meninges berherniasi melalui defek pada lengkung vertebra
posterior. Medulla spinalis biasanya normal dan menerima posisi normal pada
medulla spinalis, meskipun mungkin terhambat, ada siringomeielia atau
diastematomielia(Behrman, dkk 2000). Meningokel membentuk sebuah kista yang
diisi oleh cairan serebrospinal dan meninges.Massa linea mediana yang
berfluktuasi yang dapat bertaransiluminasi terjadi sepanjang kolumna
vertebralis, biasanya terjadi dibawah punggung.Sebagian bessar meningokel
terutup dengan baik dengan kulit dan tidak mengancam penderita.Pemeriksaan neurologis
yang cermat sangat dianjurkan.
Banyak
sekali penelitian mengungkapkan bahwa sekitar 70% kasus meningokel dapat
dicegah dengan suplementasi asam folat, sehingga defiensi asam folat dianggap
sebagai salah satu faktor penting dalam teratogenesis meningokel.
c)
Tanda dan Gejala
1. Penonjolan seperti kantung di
punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir.
2. Jika disinari, kantung tersebut
tidak tembus cahaya
3. Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul,
tungkai atau kaki
4. Penurunan sensasi
5. Inkontinensia uri (beser) maupun
inkontinensia tinja
d) Diagnosa
Diagnosis spina bifida, termasuk
meningokel ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada
trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut triple screen. Tes ini merupakan tes
penyaringan untuk spina bifida, sindrom down, dan kelainan bawaan lainnya.
Sebelum
koreksi defek dengan pembedahan, penderita harus secara menyeluruh diperiksa
dengan menggunakan rontgenogram sederhana, ultrasonografi, dan tomografi
komputasi (CT) dengan metrizamid atau resonansi magnetik (MRI) untuk menentukan
luasnya keterlibatan jaringan saraf jika ada anomali yang terkait termasuk
diastematomielia, medulla spinalis tertambat dan lipoma (Behrman, dkk 2000)
Setelah bayi lahir, dilakukan
pemeriksaan rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan, pemeriksaan USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan
pada korda spinalis maupun vertebra, serta pemeriksaan CT-scan atau MRI tulang
belakang kadang-kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan luasnya kelainan (Behrman,
dkk 2000).
e)
Pengobatan
Tujuan dari pengobatan awal spina
bifida, termasuk meningokel, adalah mengurangi kerusakan saraf akibat spina
bifina, meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi), serta membantu keluarga
dalam menghadapi kelainan ini. Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang
terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus, kelainan ginjal dan kandung kemih
serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bifida.
Terapi fisik dilakukan agar
pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk memperkuat fungsi otot. Untuk
mengobati atau mencegah meningitis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya,
diberikan antibiotik. Untuk membantu memperlancar aliran air kemih bisa
dilakukan penekanan lembutdiatas kandung kemih. Pada kasus yang berat kadang
harus dilakukan pemasangan kateter. Diet kaya serat dan program pelatihan buang
air besar bisa membantu memperbaiki fungsi saluran pencernaan.
Untuk mengatasi gejala
muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu campur tangan dari ortopedi
(bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan saraf lainnya diobati sesuai
dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang terjadi. Kadang-kadang pembedahan
shunting untuk memperbaiki hidrosefalus akan menyebabkan berkurangnya
mielomeningokel secara spontan.
f) Penatalaksanaan
1. Sebelum operasi, bayi dimasukkan ke
dalam incubator dengan kondisi tanpa baju.
2. Bayi dalam posisi telungkup atau
tidur jika kantongnya besar untuk mencegah infeksi.
3. Berkolaborasi dengan dokter anak,
ahli bedah saraf, ahli ortopedi, dan ahli urologi, terutama untuk tindakan
pembedahan, dengan sebelumnya melakukan informed
consent dan informed choice pada
keluarga (Dewi, 2010)
g)
Pencegahan
Risiko terjadinya spina bifida bisa
dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat. Kekurangan asam folat pada seorang
wanita harus dikoreksi sebelum wanita tersebut hamil, karena kelainan ini
terjadi sangat dini.
Kepada wanita yang berencana
untuk hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4 mg/hari.
Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi yang
lahir dengan kelainan seperti Hernia Diafragmatika adalah Hernia
diafragmatika adalah sekat yang membatasi rongga dada dan rongga perut. Hernia
Diafragmatika adalah penonjolan organ perut ke dalam rongga dada melalui suatu
lubang pada diafragma. Akibat penonjolan viscera abdomen ke dalam rongga thorax
melalui suatu pintu pada diafragma. Atresia duodeni merupakan salah satu abnormalitas usus yang
biasa didalam ahli bedah pediatric. Atresia duodeni ini dijumpai satu diantara
300-4.500 kelahiran hidup. Lebih dari 40% dari kasus kelainan ini ditemukan
pada bayi dengan sindrom down. Sedangkan Bayi lahir dengan berat lahir rendah
(BBLR) merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian
masyarakat yang ditandai dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR yang
tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan timbulnya masalah pada semua
sistem organ tubuh meliputi gangguan pada pernafasan (aspirasi mekonium,
asfiksia neonatorum), gangguan pada sistem pencernaan (lambung kecil), gangguan
sistem perkemihan (ginjal belum sempurna), gangguan sistem persyarafan (respon
rangsangan lambat). Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan
mental dan fisik serta tumbuh kembang. Dan yang terakhir Meningokel adalah
selaput otak menonjol keluar pada salah satu sela tengkorak tapi biasanya di
daerah belakang kepala. Itulah yang dapat disimpulkan dari penjalasan materi
diatas.
B. Saran
Agar makalah ini sempurna dan dapat menyampaikan informasi
yang aktual kami mengharapakan kritik dan saran dari pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Nur,Wafi.2010.Asuhan Neonatal, Bayi, dan
Balita.Yogyakarta:FITRAMAYA.
Savitri,Rahmi.2001.Kapita Selekta
Kedokteran.Jakarta:Media Aesculapius.
Bambari,Mira.2012.Jurnal KTI Hernia diafragmatika.
Dunia Ilmu.2012.Atresia
Duodeni.(http://ilmugreen.blogspot.co.id.
diakses 20 Nov 2016).
Kurniawati,Elsa.2015.Kelaianan
bawaan Meningokel pada bayi.
pada-bayi.html.Diakses 20 Nov 2016).
Diakses 20 Nov 2016).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar