Selasa, 29 November 2016

Kelainan Pada Neonatus


MAKALAH
ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS, BBL, BALITA, DAN APRAS
HERNIA DIFRAGMATIKA, ATRESIA DUODENI, BBLR,
DAN MENINGOKEL
Dosen Pengampu: Culeksi Yusie Noviana Putri, S.SiT, M.Kes

Disusun oleh:
                                               Kelompok 5
1.  Linda Wahyuni.P
2.  Neni Yunera

UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN AJARAN 2016/2017

 
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dan menyusun makalah ini tepat pada waktunya, makalah tentang Hernia Difragmatika, Atresia Duodeni, BBLR, dan Meningokel.
Materi makalah ini disusun dari berbagai sumber buku dan internet. Maka dari itu isi dari makalah ini bisa menambah wawasan si pembacanya. Dalam penyusunan makalah ini, ada beberapa pihak yang membantu. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuanya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan  maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan penulis untuk menyempurnakan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian.

Dhamasraya, 22 November 2016

                                                                              Penyusun
  
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan                                                                                                 
A.    Latar Belakang............................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.......................................................................................... 2
C.     Tujuan............................................................................................................ 2
BAB II Pembahasan
A.    Hernia Difragmatika...................................................................................... 3
B.     Atresia Duodeni............................................................................................. 8
C.     BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)................................................................. 12
D.    Meningokel.................................................................................................... 15
BAB III Penutup
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 19
B.     Saran.............................................................................................................. 20
Daftar Pustaka........................................................................................................... 21


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada umumnya semua manusia mengharapkan bayi yang normal, tetapi pada kenyataannya tidak semua bayi yang lahir kedunia ini dengan keadaan normal. Ada yang disebut dengan bayi baru lahir dengan kelainan. Banyak sekali kelainan pada bayi baru lahir seperti hernia bregmatika, atresia duodeni, BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah), dan Meningokel.
Sebelum dibahas lebih rinci dalam makalah ini,  akan dikenalkan terlebih dahulu kelainan – kelainan yang tersebut diatas. Hernia Diafragmatika adalah penonjolan organ intra abdomen ke dalam rongga kavum pleura melalui suatu lubang pada diafragma. Salah satu penyebab terjadinya hernia diafragma adalah trauma pada abdomen, baik trauma penetrasi maupun trauma tumpul, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Sedangkan Atresia duodeni adalah buntunya saluran pada duodenum yang biasanya terjadi pada ampula voteri. Bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian masyarakat yang ditandai dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Dan meningokel adalah selaput otak menonjol keluar pada salah satu sela tengkorak tapi biasanya di daerah belakang kepala.
Pada masing-masing kelainan tersebut ada gejala, penyebab dan pengobatannya. Kita harus mengenalinya agar kelainan pada bayi baru lahir ini dapat kita hindari  dan Ini materi yang akan dibahas pada makalah ini lebih terperinci.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Hernia diafragmatika, Atresia duodeni, BBLR, dan Meningokel?
2.      Apa tanda dan gejala dari Hernia diafragmatika, Atresia duodeni, BBLR, dan Meningokel?
3.      Bagaiman cara pengobatan dari Hernia diafragmatika, Atresia duodeni, BBLR, dan Meningokel?

C.    Tujuan
1.      Agar mahasiswa mengenal dan memahami dari kelainan tersebut.
2.      Agar mahasiswa bisa tahu bagaimana cara pengobatan dari kelainan tersebut.
3.      Agar mahasiswa tahu bagaiman cara menyikapi jika terjadi dilapangan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hernia Diafragmatika
ppt-hernia-diafragmatika-5-638.jpg heria.jpg
a)      Definisi
Hernia Diafragmatika adalah penonjolan organ perut ke dalam rongga dada melalui suatu lubang pada diafragma. Hernia diafragmatika merupakan lubang pada diafragma yang hanya ditutup oleh lapisan pluera dan peritoneum, yang memungkinkan isi rongga perut dapat masuk kedalam rongga dada. lokasi hernia diafragmatika yang paling sering adalah pada daerah posterolateral kiri atau lubang bockdhaleck akibat kegagalan penutupan kanalis pleuro-peritoneal pada 10 minggu pertama kehidupan janin.
b)     Etiologi
Salah satu penyebab terjadinya hernia diafragma adalah trauma pada abdomen (perut), baik trauma penetrasi maupun trauma tumpul abdomen. baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Mekanisme dari cedera dapat berupa cedera penetrasi langsung pada diafragma atau yang paling sering akibat trauma tumpul abdomen. Pada trauma tumpul abdomen, penyebab paling sering adalah akibat kecelakaan sepeda motor. Hal ini menyebabkan terjadi peningkatan tekanan intra abdominal yang dilanjutkan dengan adanya rupture pada otot-otot diafragma. Pada trauma penetrasi paling sering disebabkan oleh luka tembak senjata api dan luka tusuk senjata tajam. Sekitar 0,8-1,6 % dengan trauma tumpul pada abdomen mengalami rupture pada diafragma. Perbandingan insiden pada laki-laki dan perempuan sebesar 4:1.
Menurut lokasinya hernia diafragma traumatika 69 % pada sisi kiri, 24 % pada sisi kanan, dan 15 % terjadi bilateral. Hal ini terjadi karena adanya hati di sisi sebelah kanan yang berperan sebagai proteksi dan memperkuat struktur hemidiafragma sisi sebelah kanan. Organ abdomen yang dapat mengalami herniasi antara lain gaster (lambung), omentum, usus halus, kolon, limpa dan hepar (hati). Juga dapat terjadi hernia inkarserata maupun strangulata dari saluran cerna yang mengalami herniasi ke rongga toraks (dada) ini.
c)   Patofisiologis
Disebabkan oleh gangguan pembentukan diafragma. Diafragma dibentuk dari 3 unsur yaitu membrane pleuroperitonei, septum transversum dan pertumbuhan dari tepi yang berasal dari otot-otot dinding dada. Gangguan pembentukan itu dapat berupa kegagalan pembentukan seperti diafragma, gangguan fusi ketiga unsure dan gangguan pembentukan seperti pembentukan otot. Pada gangguan pembentukan dan fusi akan terjadi lubang hernia, sedangkan pada gangguan pembentukan otot akan menyebabkan diafragma tipis dan menimbulkan eventerasi. Para ahli belum seluruhnya mengetahui faktor yang berperan dari penyebab hernia diafragmatika, antara faktor lingkungan dan gen yang diturunkan orang tua.
d)  Tanda dan Gejala
a.   Retraksi sela iga dan substernal
b.  Perut kecil dan cekung
c.  Suara nafas tidak terdengar pada paru karena terdesak isi perut.
d.  Bunyi jantung terdengar di daerah yang berlawanan karena terdorong oleh isi perut.
e.  Terdengar bising usus di daerah dada.
f.  Gangguan pernafasan yang berat
g.  Sianosis (warna kulit kebiruan akibat kekurangan oksigen)
h.  Takipneu (laju pernafasan yang cepat)
i.  Bentuk dinding dada kiri dan kanan tidak sama (asimetris)
j. Takikardia (denyut jantung yang cepat).
e)   Komplikasi
Lambung, usus dan bahkan hati dan limpa menonjol melalui hernia. Jika hernianya besar, biasanya paru-paru pada sisi hernia tidak berkembang secara sempurna. Setelah lahir, bayi akan menangis dan bernafas sehingga usus segera terisi oleh udara. Terbentuk massa yang mendorong jantung sehingga menekan paru-paru dan terjadilah sindroma gawat pernafasan. Sedangkan komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita hernia diafragmatika tipe Bockdalek antara lain 20 % mengalami kerusakan kongenital paru-paru dan 5 – 16 % mengalami kelainan kromosom. Selain itu dapat menimbulkan beberapa komplikasi misalnya :
a. Gangguan Kardiopulmonal karena terjadi penekanan paru dan terdorongnya mediastinum ke arah kontralateral.
b. Sesak nafas berat berlanjut dengan asfiksia.
c. Mengalami muntah akibat obstruksi usus.
d. Adanya penurunan jumlah alveoli dalam pembentukan bronkus.
f)    Gambaran klinis
Kelainan yang sering ditemukan adalah adanya penutupan yang tidak sempurna dari sinus pleuroperitoneal ( foramen bochdalek ) yang terletak pada bagian postero-lateral dari diafragma, tetapi jarang di temukan hernia sinussubsternal (foramen morgagni) yang melalui hiatus esofagus.
g)   Penatalaksanaan
a. Pemeriksaan fisik
1) Pada hernia diafragmatika dada tampak menonjol, tetapi gerakan nafas tidak nyata
2) Perut kempis dan menunjukkan gambaran scafoid
3) Pada hernia diafragmatika pulsasi apeks jantung bergeser sehingga kadang-kadang terletak di hemitoraks kanan
4) Bila anak didudukkan dan diberi oksigen, maka sianosis akan berkurang
5) Gerakan dada pada saat bernafas tidak simetris
6) Tidak terdengar suara pernafasan pada sisi hernia
7) Bising usus terdengar di dada
8) Perut terasa kosong
b. Pemeriksaan penunjang
1) Foto thoraks akan memperlihatkan adanya bayangan usus di daerah toraks
2) Kadang-kadang diperlukan fluoroskopi untuk membedakan antara paralisis diafragmatika dengan eventerasi (usus menonjol ke depan dari dalam abdomen).
c. Perencanaan
Apabila pada anak dijumpai adanya kelainan-kelainan yang bias mengarah pada hernia difragmatika, maka anak perlu segera dibawa ke dokter atau rumah sakit agar segera bias ditangani dan mendapatkan diagnosis yang tepat.
Tindakan yang bisa dilakukan sesuai dengan masalah dan keluhan-keluhan yang dirasakan adalah :
1) Anak ditidurkan dalam posisi duduk dan dipasang pipa nasogastrik yang dengan teratur dihisap
2) Diberikan antibiotika profilaksis dan selanjutnya anak dipersiapkan untuk operasi. Organ perut harus dikembalikan ke rongga perut dan lubang pada difragma diperbaiki.
Indikasi Operasi
a. Esophagitis – refluks gastroesofageal
b. Abnormal PH monitoring pada periksaan monometrik
c. Kelainan pada foto upper GI
d. Adanya hernia paraesofageal dengan gejala mekanis
e. Esophageal stricture
f. Tindakan operatif pada Barrett’s esophagus
g. Kegagalan terapi medikal yang adekuat
h. Ruptur diafragma pada hernia traumatika
i. Insuffisiensi kardiorespirator progress
Kontra indikasi operasi (tidak ada)
h)  Diagnosa
Dapat ditegakkan diagnosa, yaitu:
1)      gerakan dada pada saat bernafas tidak simetris
2)       tidak terdengar suara pernafasan pada sisi hernia
3)      bising usus terdengar di dada
4)       perut teraba kosong.
Rontgen dada menunjukkan adanya organ perut di rongga dada.
i)     Pengobatan
Hernia diafragmatika diatasi dengan pembedahan darurat. Organ perut harus dikembalikan ke rongga perut dan lubang pada diafragma diperbaiki.
B.     Atresia Duodeni
atresia-duodeni-3-638.jpg
a)      Definisi
Atresia Duodeni adalah tidak terbentuknya atau tersumbatnya duodenum (bagian terkecil dari usus halus) sehingga tidak dapat dilalui makanan yang akan ke usus. atresia duodeni diakibatkan kegagalan rekanalisasi setelah tahap " solid cord" dari pertumbuhan usus proksimal.

b)     Etiologi
Penyebab dari atresia duodenum merupakan kelainan bawaan yang penyebabnya belum diketahui secara jelas. Namun kerusakan pada duodenum terjadi karena suplay darah yang rendah pada masa kehamilan sehingga duodenum mengalami penyempitan dan menjadi obstruksi. Akan tetapi dilhat dari jenis kelainan, atresia duodenal ini merupakan kelainan pengembangan embrionik saat masih dalam kehamilan.
c)      Tanda dan Gejala
1. Perutnya menggelembung.
2. Muntah pertama sangat banyak, yang berwarna kehijau-hijauan.
3. Muntah berikutnya terjadi ketika tidak mendapatkan makanan selama beberapa waktu.
4. Tidak kencing setelah disusui.
5. Tidak ada gerakan husus setelah pengeluaran mekonium.
d)     Komplikasi
Pada atresia duodeni ini, biasanya akan diikuti dengan obstruksi-obstruksi yang lain, seperti:
a.    Obstruksi lumen oleh membrane utuh, fail fibrosa menghubungkan dua ujung kantong duodenum yang buntu pendek, atau suatu celah antara ujung-ujung duodenum yang tidak iusim antara lain “Windscode” yakni suatu slap jaringan yang dapat mengembang yang terjadi akibat anomaly saluran empedu.


b.      Aresia membranosa
c.       Obstruksi duodenum dapat disebabkan oleh pita-pita lada pada penderita melpatasi.
e)      Manifestasi klinik
Atresia duodeni pada bayi baru lahir harus dicurigai bila bayi tersebut muntah segera setelah lahir dan secara progesif menjadi buruk dengan pemberian makanan. Feces akan terlihat seperti mikonium normal, tetapi pada pemeriksaan tidak mengandung sel epitelium berlapis. Adanya sel epitel menunjukkan keutuhan atau kenormalan usus tersebut. Dengan adanya peningkatan dehidrasi, maka dapat menimbulkan demam, yaitu bersuhu 39o C yang merupakan indikasi peritonitis akibat ruktur dari atresia. Kelainan ini seringkali ditemukan sindrom down.
f)    Diagnosa
Atresia duodeni dapat dikonfirmasikan dengan pemeriksaan x-ray abdomen, sebuah foto upright abdomen menunjukkan gambaran klasik “double buble”. Pemeriksaan dengan kontras tidak diperlukan bila udara terlihat pada usus disitu dari duodenum. Obstruksinya incomplete mengarah pada stenosis duodenal atau malrotasi, malrotasi dengan volvulus harus dicurigai (disingkirkan) bila abdomen tidak terbentuk scaphoid setelah pemasangan nasogastrik yube.
g)   Penanganan
a.    Pada pengobatan awal bayi pada atresia duodenum meliputi dekompresi naso atau orogastrik dengan penggantian cairan secara intervena.
b.   Ekokardiogram dan fotorontgen dada serta tulang belakang harus dilakukan untuk mengevaluasi anomaly yang lain anomaly bawaan yang dapat mengancam kehidupan.
c.    Koreksi definitive atresia avodenum biasanya ditunda untuk mengevaluasi dan mengobati anomaly lain yang berakibat fatal.
d.   Duodoni Duodenostami adalah operasi perbaikan atresia duodenum, usus proksimal yang telah melebar dapat dikecilkan secara perlahan dalam upaya memperbaiki peristaltik.
e.    Pemasangan pipa gestratomi dipasang untuk mengalirkan lambung dan melindungi jalan nafas.
f.    Dukungan nutrisi intravena atau pipa jejunum frensencstomosis diperlukan sampai bayi mulai makan peroral.
g.   Jika obstruksi disebabkan oleh pipa lada dengan meliotosi operasi diperlukan tanpa boleh ditunda setelah lipatan atau pita peritoneum yang tidak normal dipisahkan, seluruh usus besar diletakkan didalam harus diletakkan disebalah kanan posisi janin tidak berputar (mal rotasi)
h.   Aapendektomi dilakukan menghindari salah diagnose apendisitis kemudian hari.
i.     Memasang kateter nasagastik berujung balon ke dalam jejunum kesebelah obstruksi, balon ditiup dengan pelan-pelang, menarik kateternya. ini dilakukan apabila terjadi malrotasi yang muncul bersama dengan obstruksi duodenum instrisik seperti membrane atau sterosis.
j.     Pada Pancrease anilare paling baik ditangani dengan duodenoduoderostomi tanpa memisahkan pancrease dengan meninggalkan sependek mungkin bagian lingkungan yang tidak berfungsi. obstruksi duodenum diafragmatika dikelola dengan diadenoplasti karena ada kemungkinan bahwa duktus koledafus dapat bermuara pada diafragma sendiri (Ngastiyah, 1997).
h)     Asuhan Kebidanan
1.      Perbaikan keadaan umum dengan mengatasi muntah-muntah sebelum operasi.
2.      Berikan informed consent dan informena chace sebelum dilakukan rujukan atau tindakan pembedahan.

C.    BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)
bayi-tidak-cukup-bulan.jpg
a)   Definisi
BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 g tanpa memperhatikan umur kehamilan. pada bblr sering ditemui refleks mengisap/menelan lemah. bahkan kadang-kadang tidak ada,bayi cepat lelah. saat menyusu sering tersedak atau malas mengisap dll.
b)  Etiologi
BBLR dapat disebabkan karena:
1. Persalinan kurang bulan / premature
Bayi lahir pada umur kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu.
Pada umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat daripada waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup diluar rahim. Semakin muda umur kehamilan, fungsi organ tubuh semakin kurang sempurna dan prognosisnya semakin kurang baik. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (prematur).
2.Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan
Bayi lahir kecil untuk masa kehamilannya karena ada hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh lambat). Retardasi pertumbuhan intrauterine berhubungan dengan keaadaan yang mengganggu sirkulasi dan efisiensi plasenta dengan pertumbuhan dan perkembangan janin atau dengan keadaan umum dan gizi ibu. Keadaan ini mengakibatkan kurangnya oksigen dan nutrisi secara kronik dalam waktu yang lama untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.
c)   Penanganan
1. Mempertahankan suhu dengan ketat
BBLR mudah dan cepat mengalami hipotermi, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relative lebih luas dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak di bawah kulit, dan kekurangan lemak coklat (brown fat).

2. Mencegah infeksi dengan ketat
BBLR sangat rentan akan infeksi, ini disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relative belum sanggup membentuk entibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik. Oleh karena itu, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi, termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.

3. Pengawasan nutrisi/ASI
Pada BBLR refleks isap, telan dan batuk belum sempurna, sehingga pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase kurang, disamping itu kebutuhan protein 3-5 gram/hari dan tinggi kalori (110 kal/kg/hari), agar berat badan bertambah sebaik-baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur 3 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.

4. Penimbangan ketat
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi / nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.


D.    Meningokel
meningokel-dan-ansefalokel-4-638.jpg
a)   Definisi
Meningokel merupakan satu dari tiga jenis kelainan bawaan spina bifida. meningokel adalah meningens yang menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan berisi cairan dibawah kulit. spina bifida ( sumbing tulang belakang ) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra), yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh.
b)  Etiologi
Penyebab terjadinya menignokel adalah karena adanya defek pada peutupan spina bifida yang berhubungan dengan pertumbuhan yang tidak normal dari korda spianlis atau penutupnya, biasanya terletak di garis tengah.
Meningokel terbentuk saat meninges berherniasi melalui defek pada lengkung vertebra posterior. Medulla spinalis biasanya normal dan menerima posisi normal pada medulla spinalis, meskipun mungkin terhambat, ada siringomeielia atau diastematomielia(Behrman, dkk 2000). Meningokel membentuk sebuah kista yang diisi oleh cairan serebrospinal dan meninges.Massa linea mediana yang berfluktuasi yang dapat bertaransiluminasi terjadi sepanjang kolumna vertebralis, biasanya terjadi dibawah punggung.Sebagian bessar meningokel terutup dengan baik dengan kulit dan tidak mengancam penderita.Pemeriksaan neurologis yang cermat sangat dianjurkan.
Banyak sekali penelitian mengungkapkan bahwa sekitar 70% kasus meningokel dapat dicegah dengan suplementasi asam folat, sehingga defiensi asam folat dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam teratogenesis meningokel.
c)   Tanda dan Gejala
1.      Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir.
2.      Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya
3.      Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki
4.      Penurunan sensasi
5.      Inkontinensia uri (beser) maupun inkontinensia tinja
d)  Diagnosa
Diagnosis spina bifida, termasuk meningokel ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut triple screen. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindrom down, dan kelainan bawaan lainnya.
Sebelum koreksi defek dengan pembedahan, penderita harus secara menyeluruh diperiksa dengan menggunakan rontgenogram sederhana, ultrasonografi, dan tomografi komputasi (CT) dengan metrizamid atau resonansi magnetik (MRI) untuk menentukan luasnya keterlibatan jaringan saraf jika ada anomali yang terkait termasuk diastematomielia, medulla spinalis tertambat dan lipoma (Behrman, dkk 2000)
Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan, pemeriksaan USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun vertebra, serta pemeriksaan CT-scan atau MRI tulang belakang kadang-kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan luasnya kelainan (Behrman, dkk 2000).
e)   Pengobatan
Tujuan dari pengobatan awal spina bifida, termasuk meningokel, adalah mengurangi kerusakan saraf akibat spina bifina, meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi), serta membantu keluarga dalam menghadapi kelainan ini. Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus, kelainan ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bifida.
Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati atau mencegah meningitis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya, diberikan antibiotik. Untuk membantu memperlancar aliran air kemih bisa dilakukan penekanan lembutdiatas kandung kemih. Pada kasus yang berat kadang harus dilakukan pemasangan kateter. Diet kaya serat dan program pelatihan buang air besar bisa membantu memperbaiki fungsi saluran pencernaan.
Untuk mengatasi gejala muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu campur tangan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan saraf lainnya diobati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang terjadi. Kadang-kadang pembedahan shunting untuk memperbaiki hidrosefalus akan menyebabkan berkurangnya mielomeningokel secara spontan.
f)    Penatalaksanaan
1.      Sebelum operasi, bayi dimasukkan ke dalam incubator dengan kondisi tanpa baju.
2.      Bayi dalam posisi telungkup atau tidur jika kantongnya besar untuk mencegah infeksi.
3.      Berkolaborasi dengan dokter anak, ahli bedah saraf, ahli ortopedi, dan ahli urologi, terutama untuk tindakan pembedahan, dengan sebelumnya melakukan informed consent dan informed choice pada keluarga (Dewi, 2010)
g)   Pencegahan
Risiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat. Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus dikoreksi sebelum wanita tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini.
Kepada wanita yang berencana untuk hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi yang lahir dengan kelainan seperti Hernia Diafragmatika adalah Hernia diafragmatika adalah sekat yang membatasi rongga dada dan rongga perut. Hernia Diafragmatika adalah penonjolan organ perut ke dalam rongga dada melalui suatu lubang pada diafragma. Akibat penonjolan viscera abdomen ke dalam rongga thorax melalui suatu pintu pada diafragma. Atresia duodeni merupakan salah satu abnormalitas usus yang biasa didalam ahli bedah pediatric. Atresia duodeni ini dijumpai satu diantara 300-4.500 kelahiran hidup. Lebih dari 40% dari kasus kelainan ini ditemukan pada bayi dengan sindrom down. Sedangkan Bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan yang sering dialami pada sebahagian masyarakat yang ditandai dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan timbulnya masalah pada semua sistem organ tubuh meliputi gangguan pada pernafasan (aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum), gangguan pada sistem pencernaan (lambung kecil), gangguan sistem perkemihan (ginjal belum sempurna), gangguan sistem persyarafan (respon rangsangan lambat). Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik serta tumbuh kembang. Dan yang terakhir Meningokel adalah selaput otak menonjol keluar pada salah satu sela tengkorak tapi biasanya di daerah belakang kepala. Itulah yang dapat disimpulkan dari penjalasan materi diatas.
B.  Saran
Agar makalah ini sempurna dan dapat menyampaikan informasi yang aktual kami mengharapakan kritik dan saran dari pembaca.





















DAFTAR PUSTAKA

Nur,Wafi.2010.Asuhan Neonatal, Bayi, dan   
          Balita.Yogyakarta:FITRAMAYA.
Savitri,Rahmi.2001.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Media Aesculapius.
Bambari,Mira.2012.Jurnal KTI Hernia diafragmatika.
         (http://mbambar.blogspot.co.id.diakses20 November 2016).
Dunia Ilmu.2012.Atresia Duodeni.(http://ilmugreen.blogspot.co.id.
Kurniawati,Elsa.2015.Kelaianan bawaan Meningokel pada bayi.
          pada-bayi.html.Diakses 20 Nov 2016).
Lestari,Puji.2013.Makalah Atresia Duodeni.(http://pujil734.blogspot.co.id.
          Diakses 20 Nov 2016).





                                                                


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar