Selasa, 02 Mei 2017

USAHA BARU DAN MODEL PENGEMBANGAN


IDE dan Peluang Kewirausahaan



MAKALAH
KEWIRAUSAHAAN DALAM KEBIDANAN
TENTANG IDE DAN PELUANG KEWIRAUSAHAAN


DOSEN PENGAMPU: NOVVI KARLINA, SST

DISUSUN OLEH
NAMA                 : LINDA WAHYUNI.P
NIM                     : 1501021006
SEMESTER        : 4




UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN AJARAN 2016/2017


 

KATA PENGANTAR
Puji syukur, penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha ESA yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya. Makalah tentang Ide dan Peluang Kewirausahaan.
Materi makalah ini disusun dari berbagai sumber buku dan internet. Maka dari itu makalah ini dapat menambah wawasan si pembacanya. Dalam penyusunan makalah ini ada pihak yang membantu, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih.
Ada pepatah yang mengatakan “ Tiada Gading yang Tak Retak”, demikian pula makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini. Agar dalam pembuatan makalah selanjutnya jauh lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

                                                                                   

Dhamasraya, 19 Maret 2017

                                                                              Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang......................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................... 3
C.     Tujuan...................................................................................................... 3
D.    Manfaat.................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.    Ide Kewirausahaan.................................................................................. 4
B.     Sumber-sumber Potensi Peluang.............................................................. 7
C.     Bekal Pengetahuan dan Kompetensi Kewirausahaan.............................. 10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.............................................................................................. 13
B.     Saran........................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 14
                                                           
 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di era modern sekarang ini sangat banyak orang yang membuka usaha untuk menghasilkan keutungan agar dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi lain halnya di Indonesia yang jumlah pengusahanya sedikit dan mengalami ketertinggalan jika dibandingkan dengan Negara tetangga.
Buktinya saja di Indonesia pada tahun 2016 Indonesia baru memiliki 1,5 persen pengusaha dari sekitar 252 juta penduduk Tanah Air. Indonesia masih membutuhkan sekitar 1,7 juta pengusaha untuk mencapai angka dua persen. Sedangkan di negara Asean seperti Singapura tercatat sebanyak 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen jumlah pengusahanya.
Dari gambaran diatas pastinya Indonesia harus meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia agar tidak tertinggal lagi dari negara tetangga. Indonesia juga perlu menciptakan pengusaha baru yang berkualitas dan terdidik yakni dari kalangan mahasiswa. Pengusaha yang berlatar belakang sarjana, akan memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas usahanya serta akan kuat menghadapi persaingan yang semakin ketat di era masyarakat ekonomi Asean (MEA). Daya saing mereka akan kuat, sebab secara pendidikan jauh lebih mampu.


Jika terciptanya pengusaha baru akan menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, serta menciptakan kepastian pendapatan. Akan menyerap lebih banyak angkatan kerja, industri terus bergerak, daya beli masyarakat meningkat, permintaan barang atau jasa akan melonjak lagi. Jika jumlah wirausaha bisa bertambah akan turut mendongkrak ekonomi negara. Bertambahnya lapangan pekerjaan dan akhirnya meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat.
Untuk dapat menciptakan pengusaha baru dibutuhkan oang-orang yang memiliki ide kreatif agar dapat membuka peluang usaha. Maka dari itu dalam kebidanan ini kita penting juga mempelajari kewirausahaan agar dapat menciptakan lapangan kerja dan dapat menjadi wirausaha yang sukses. Dalam makalah ini akan dibahas tentang ide dan peluang kewirausahaan.












B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ide kewirausahaan?
2.      Apa saja sumber-sumber potensi peluang?
3.      Apa saja bekal pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan?

C.    Tujuan
1.      Tujuan Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang kewiraushaan.

2.      Tujuan Khusus
a.       Agar mahasiswa mampu memahami bagaimana timbulnya ide dan peluang dalam kewirausahaan.
b.      Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi sumber-sumber  peluang potensial kewirausahaan.
c.       Agar mahasiswa mampu memahami arti penting bekal pengetahuan dan kemampuan dalam mencapai keberhasilan kewirausahaan.

D.    Manfaat
Dalam mempelajari kewirausahaan memilki manfaat untuk mahasiswa sendiri adalah mempunyai kesempatan mengasah jiwa wirausaha, meningkatkan soft skill dengan terlibat langsung dalam dunia kerja, meningkatkan keberanian memulai usaha, mendapat dukungan modal dan pendampingan secara terpadu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Ide Kewirausahaan
Salah satu karakteristik wirausaha adalah dream (mimpi) yaitu memiliki masa depan dan kemampuan mencapai isi. Inilah yang akan menimbulkan sebuah ide. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), ide adalah rancangan yang tersusun didalam pikiran.
Ide dapat menjadi peluang apabila bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus-menerus melalui proses penciptaan sesuatu yang baru dan berbeda, mengamati peluang, menganalisis proses secara mendalam dan memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi. Untuk memperoleh peluang, wirausaha harus memiliki berbagai kemampuan dan pengetahuan, seperti kemampuan menghasilkan produk atau jasa, menghasilkan nilai tambah, merintis usaha, melakukan proses atau teknik, atau mengembangkan organasasi baru.
Harus diakui bahwa mengembangkan kreativitas dalam upaya membangun usaha baru, bukan pekerjaan mudah. Hambatan eksternal seperti tekanan waktu dan tidak ada dukungan. Namun hambatan yang paling sulit untuk diatasi adalah hambatan yang berasal dari diri sendiri, yaitu berupa gembok mental yang menyebabkan kita tidak bisa berfikir merdeka. Sejumlah gembok mental yang kerap membatasi kreativitas, yakni:
1.      Terfokus pada upaya mencari “satu jawaban yang benar”. Padahal setiap persoalan itu memiliki ambiguitas. Satu pertanyaan memiliki banyak jawaban yang benar.
2.      Terlalu mengandalkan pada logika. Logika memang bagian penting dari proses kreatif, khususnya ketika mengevaluasi dan mengimplementasikan ide. Namun demikian pada fase proses imajinatif, berfikir logis sering menggembok kreativitas. Intuisi menjadi lebih penting, karena ia merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang kaya dengan perspektif.
3.      Mengikuti aturan dengan membuta. Kita sering tidak cukup berani untuk keluar dari aturan. Seringkali kreativitas itu muncul karena kemampuan kita untuk melanggar aturan yang sudah ada sehingga kita bisa melihat cara baru untuk melakukan sesuatu.
4.      Selalu berorientasi praktis. Membayangkan jawaban yang terkadang tidak masuk akal dari suatu pertanyaan yang logis sering memberikan inspirasi terbentuknya ide kreatif.
5.      Menjadi terlalu spesialis. Orang yang terlalu spesialis cenderung kurang tertarik pada sesuatu yang berada di luar bidangnya. Padahal pemikir kreatif cenderung mencari ide di luar wilayah spesialisasinya.
6.      Menghindari ambiguitas. Ambiguitas dapat menjadi stimulus yang kuat bagi kreativitas. Ambiguitas mendorong kita untuk memikirkan sesuatu yang berbeda. Ada contoh menarik, Jeffrey Erexson seorang entrepreneur mengajukan pertanyaan, “apa itu kulit?” hampir semua orang mengatakan bahwa kulit adalah jangat binatang mamalia. Erexson kemudian bertanya lagi, “mengapa bukan jangat dari ikan?” Dengan menghargai ambiguitas ia akhirnya menemukan peluang usaha dengan mendirikan Ocean Leather Inc. Bahkan baru-baru ini anak-anak Yogya malah lebih hebat lagi, yaitu menyajikan tas dan sepatu dari kulit kaki ayam. Inilah pentingnya ambiguitas.
7.      Takut kelihatan bodoh. Berfikir kreatif itu tidak memberi tempat bagi konformitas. Ide-ide baru jarang lahir dari lingkungan yang konformis.
8.      Takut berbuat kesalahan. Orang kreatif dalam mencoba gagasan baru sering menghadapi kegagalan. Namun mereka tidak melihat kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Kegagalan adalah merupakan biaya belajar untuk sukses.
9.      Cepat mengaku dirinya tidak kreatif. Banyak orang merasa dirinya tidak kreatif, karena mereka menganggap kreatif itu hanya milik segelintir orang.

Agar dapat merubah suatu tantangan menjadi peluang diperlukan inovasi, misalnya menemukan penemuan baru sesuai dengan apa yang menjadi keinginan konsumen sehingga mampu menciptakan permintaan, sehingga yang bersangkutn  dapat dikategorikan sebagai “business innovation”  sekaligus menjadi “market driven” yang mampu menciptakan ketergantungan konsumen kepada produsen.
 Menurut Zimmerer ide-ide dari wirausahawan dapat menciptakan nilai potensial dipasar sekaligus menjadi peluang usaha yang menjanjikan keuntungan. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi serta evaluasi semua risiko yang mungkin timbul dari terciptanya peluang usaha tersebut. yaitu dengan cara :
1.      Perlu strategi yang proaktif guna mengurangi kemungkinan timbulnya risiko.
2.      Sedapat mungkin menyebabkan risiko keberbagai aspek yang ada.
3.      Kemampuan mengelola risiko sehingga justru dapat mendatangkan manfaat ataupun nilai tambah.


Alternatif merubah ide menjadi peluang :
(1)   Ide dapat digerakkan secara internal melalui perubahan cara-cara atau metode yang lebih baik untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya.
(2)   Ide dapat dihasilkan dalam bentuk produk dan jasa baru.
(3)   Ide dapat dihasilkan dalam bentuk modifikasi bagaimana pekerjaan dilakukan atau modifikasi cara melakukan suatu pekerjaan.
Bidan juga harus memiliki ide dalam membangun usaha, seperti bisa dimulai dengan meneliti dan membuat pembalut alami untuk mengurangi infeksi terhadap daerah kemaluan saat menstruasi.

B.     Sumber-Sumber Potensial Peluang
Upaya merubah ide yang masih potensial menjadi peluang bisnis yang riil, dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi suatu peluang secara terus menerus atau melakukan penyaringan ide (screening). Adapaun langkah-langkah  dalam melakukan penyaringan ide mencakup :
(1)   Menciptakan produk baru dan berbeda.
Pada saat ide dimunculkan secara riil, baik dalam bentuk barang ataupun jasa baru, maka produk tersebut harus berbeda dengan produk yang sudah ada di pasar dan sekaligus harus mampu menciptakan  nilai bagi konsumen. Dengan demikian sorang wirausahawan harus pula mampu melakukan analisis sekaligus memahami perilaku konsumen ataupun perilaku pasar.

(2) Mengamati pintu peluang
      Wirausahawan harus secara cermat mengamati dan menganalisis potensi yang dimiliki pesaing antara lain berkaitan dengan berbagai hal mengenai sumber keuangan berikut kekuatanya,  jenis, jumlah dan stok produk di gudang, pola pemasaran produknya, sumber dan dukungan material dan lain-lain.
Sementara itu menurut Zimmerer, ada beberpa kondisi yang dapat menciptakan peluang, yaitu :
(a)    Produk baru harus segera dipasarkan dalam jangka waktu yang relatif singkat.
(b)   Kerugian teknik harus diupayakan serendah mungkin.
(c)    Bila pesaing tidak begitu agresif dalam mengembangkan strategi produknya.
(d)   Pesaing tidak/kurang memiliki teknologi canggih
(e)    Sejak awal pesaing tidak memiliki strategi yang handa dalam mempertahankan posisi pasarnya.
(f)    Perusahaan baru memiliki sumberdaya dan kemampuan untuk menciptakan produk barunya.
(3) Analisis produk dan proses produksi secara mendalam
             Analisis ini sangat penting untuk menjamin apakah jumlah dan kwualitas produk yang dihasilkan memadai ataukah tidak, berapa biaya untuk menghasilkan produk tersebut. apakah biaya yang dikeluarkan lebih efisien dibandingkan biaya yang dikeluarkan pesaing.
(4) Menaksir biaya awal
      Yaitu biaya awal yang diperlukan oleh suatu usaha baru, dari mana sumbernya dan untuk apa penggunaannya, berapa yang diperlukan untuk investasi, operasi, perluasan ataupun biaya lainnya.
(5) Memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi
           Misalnya risiko teknik, finansial dan risiko persaingan yang merupakan kemampuan dan kesediaan pesaing untuk mempertahankan posisinya di pasar.  Risiko pesaing ini mencakup pertanyaan :
a)        Kemungkianan kesamaan dan keunggulan produk apa yang dikembangkan pesaing?
b)        Tingkat keberhasilan apa yang telah dicapai oleh pesaing dalam product development?
c)        Seberapa banyak dukungan keuangan pesaing bagi pengembangan produk baru dan produk yang diperkenalkanya?
d)       Apakah perusahaan baru cukup kuat untuk mengatasi serangan-serangan pesaing?
Sedangkan risiko teknik meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan proses pengembangan produk yang sesuai dengan yang diharapkan atau berkenaan dengan obyek penentu. Apakah ide secara aktual dapat ditransformasikan menjadi produk yang siap dipasarkan berikut kapabilitas dan karakteristiknya.
Risiko finansial merupakan risiko yang timbul akibat tidak cukupnya dukungan finansial dalam tahap pengembangan produk baru maupun dalam menciptakan dan mempertahankan perusahaan guna mendukung pembiayaan produk baru.
C.    Bekal Pengetahuan dan Kompetensi Kewirausahaan
Studi oleh Lambing menunjukan bahwa sebagian besar responden wirausaha berasal dari pengalaman sehingga dia memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Hal ini berarti pendukung utama keberhasilan wirausaha adalah dimilikinya watak dan jiwa kewirausahaan, Yang dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh keterampilan, pengetahuan atau kompetensi. Dan kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha.
Seperti telah kita bahas bahwa wirausaha merupakan seseorang mempunyai kemampuan inovatif dan kreatif yang secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha (start up), kemampuan mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemampuan dan kemauan mencari peluang, kemampuan dan keberanian menanggung risiko dan kemampuan mengembangkan ide serta meramu sumber daya.
Semua ini diperlukan untuk :
a.       Menghasilkan produk baru           
b.      Merintis usaha baru
c.       Menghasilkan nilai tambah baru     
d.      Melakukan proses/teknik baru
e.       Mengembangkan organisasi baru


Bekal berupa pengetahuan yang harus juga dimiliki meliputi :
1.       Bekal pengetahuan bidang usaha yang dimasuki dan lingkungan usaha yang   ada disekitarnya.
2.       Bekal pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab.
3.       Pengetahuan tentang kepribadian dan kemamuan diri.
4.       Pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis.

Sementara itu bekal pengetahuan saja tidaklah cukup bila tidak dilengkapi dengan bekal keterampilan, yang antara lain mencakup :
a)          Ketrampilan konseptual dalam mengatur strategi dan memperhitungkan risiko.
b)          Keterampilan kreatif dalam menciptakan nilai tambah.
c)          Keterampilan dalam memimpin dan mengelola.
d)         Keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi.
e)          Keterampilan teknik dalam bidang usaha yang dilakukan.

Kemampuan kewirausahaan, pengetahuan, dan keterampilan akan membentuk kepribadian wirausaha. Dan menurut Bradstreet, pengusaha kecil harus memiliki kepribadian khusus, yakni penuh pendirian, realistis penuh harapan, penuh komitmen. Sedangkan modal yang cukup dapat diperoleh apabila perusahaan mampu mengembangkan hubngan baik dan menjali kepercayaan dengan lembaga keuangan.
Menurut Norman M Scarborough kompetensi kewirausahaan yang diperlukan meliputi :
1.       Proaktif, selalu ada inisiatif dan tegas dalam melaksanakan tugas.
2.       Berorientasi pada prestasi, dengan ciri-ciri :
a.       Selalu mencari peluang
b.      Berorientasi pada efisiensi
c.       Konsentrasi untuk kerja keras
d.      Perencana yang sistematis
e.       Selalu memonitor
3.      Komitmen terhadap perusahaan atau orang lain, dengan ciri : 
a.       Selalu penuh komitmen dalam mengadakan kontrak kerja
b.      Mengenali pentingnya hubungan bisnis.   
Bidan dalam membuka bidan praktek swasta (BPM) juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan agar usaha yang dijalankan berjalan lancar. Dan masyarakat percaya akan kemampuan yang dimiliki bidan. Seperti itulah sedikit gambaran usaha yang dapat dilakukan seorang bidan.
                                                     






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari materi diatas dapat kita simpulkan bahwa ide dapat timbul jika seorang wirausaha dapat mengevaluasi dari apa yang dipikirkannya. Untuk memperoleh peluang, wirausaha harus memiliki berbagai kemampuan dan pengetahuan. Jadi bidan bisa membuka usaha jika ide-nya dikembangkan, bisa dimulai dari melakukan penelitian untuk menghasilkan barang atau jasa yang baru.
Adapaun langkah-langkah  dalam melakukan penyaringan ide mencakup:
1.      Menciptakan produk baru dan berbeda.
2.      Mengamati pintu peluang.
3.      Analisis produk dan proses produksi secara mendalam.
4.      Menaksir biaya awal.
5.      Memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi.
Bidan dalam membuka bidan praktek swasta (BPM) juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan agar usaha yang dijalankan berjalan lancar. Dan masyarakat percaya akan kemampuan yang dimiliki bidan.
B.     Saran
Dalam pembuatan makalah ini mungkin terdapat kesalahan, untuk itu penulis mengharpkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Sudaryono. 2011. Kewirausahaan. Yogyakarta:ANDI.
Sandiasa, Godo. 2009. Kewirausahaan. Bali:Universtas Panji Sakti.
Purwanto. 2006. Diktat Pengantar Kewirausahaan. Yogyakarta:UNY.
             kewirausahaan-prodi-d-iv-kebidanan/.
http://kbbi.web.id/.